Home » Artikel Bisnis » Kerugian dan Keuntungan Sistem Outsourching

Kerugian dan Keuntungan Sistem Outsourching

Wednesday, May 1st 2013. | Artikel Bisnis, Belajar Manajemen

keuntungan dan kerugian outsourcingSemangat pagi para pembaca setia atepfirm.com…Mudah-mudahan hari Anda selalu menyenangkan dan kesuksesan selalu menyertai Anda. Tapi apapun yang terjadi be positive thinking and be grateful what you have today, ok J

Pada posting kali ini saya terinspirasi pada para buruh yang tadi pagi melakukan aksi demonstrasi meyambut hari buruh sedunia atau May Day yang jatuh tiap tanggal 1 Mei. Dimana salah satu tuntutannya adalah menuntut dihapuskannya sistem outsourcing yang selama ini berlaku di banyak perusahaan.

Lantas apa dan bagaimana sistem outsource itu, bagaimana sebenarnya keuntungan dan kerugian outsourcing yang dimaksud. Anda akan menemukannya di artikel kali ini yang akan membahas tentang keuntungan dan kerugian sistem outsourcing. Selamat membaca :-)

Outsourcing terbagi atas dua suku kata: out dan sourcing. Sourcing berarti mengalihkan kerja, tanggung jawab dan keputusan kepada orang lain. Outsourcing dalam bahasa Indonesia berarti alih daya.

Outsourcing terjadi ketika sebuah bisnis/ perusahaan mengalihkan sebagian pekerjaan yang sifatnya bukan pekerjaan utama (non-core) kepada perusahaan lain (vendor) atau menggunakan jasa dan atau  produk/ (dalam hal ini tenaga kerja) dari pihak ketiga, daripada menyediakannya sendiri atau melakukan rekrutmen dalam perusahaan sendiri.

Dasar Hukum Outsourcing sendiri adalah Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan:

Pasal 64
Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa Pekerja/Buruh yang dibuat secara tertulis.

Jadi berdasarkan ketentuan pasal di atas, outsourcing dibagi menjadi dua jenis:

Pemborongan pekerjaan
Yaitu pengalihan suatu pekerjaan kepada vendor outsourcing, dimana vendor bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pekerjaan yang dialihkan beserta hal-hal yang bersifat teknis (pengaturan oerasional) maupun hal-hal yang bersifat non-teknis (administrasi kepegawaian). Pekerjaan yang dialihkan adalah pekerjaan yang bisa diukur volumenya, dan fee yang dikenakan oleh vendor adalah rupiah per satuan kerja (Rp/m2, Rp/kg, dsb.). Contoh: pemborongan pekerjaan cleaning service, jasa pembasmian hama, jasa katering, dsb.

Penyediaan jasa Pekerja/Buruh
Yaitu pengalihan suatu posisi kepada vendor outsourcing, dimana vendor menempatkan karyawannya untuk mengisi posisi tersebut. Vendor hanya bertanggung jawab terhadap manajemen karyawan tersebut serta hal-hal yang bersifat non-teknis lainnya, sedangkan hal-hal teknis menjadi tanggung jawab perusahaan selaku pengguna dari karyawan vendor.

Ada beberapa keuntungan dan kerugian untuk outsourcing.

Dalam hal ini pembahasan akan kami fokuskan kepada keuntungan dan kerugian dari outsorcing jenis kedua yakni penyediaan tenaga kerja/ buruh dipandang dari dua sudut pandang. Sudut pandang perusahaan pengguna (user) dan karyawan/buruh outsource itu sendiri.

Pertama, bagi perusahaan pengguna jasa karyawan outsourcing, tentu memiliki keuntungan tersendiri. Salah satunya adalah:

  • proses rekrutmen tenaga kerja menjadi lebih mudah dan bisa lebih singkat serta bisa menghemat anggaran.
  • mampu menekan biaya operasional terkait upah dan fasilitas tenaga kerja.
  • Tidak direpotkan dengan administrasi kepegawaian karena sudah ditangani langsung oleh vendor penyedia tenaga kerja.
  • Meminimalkan resiko melalui sharing risk kepada pihak ketiga.
  • Meningkatkan efisiensi perusahaan

Sementara bagi tenaga kerja sendiri keuntungannya adalah mendapat pekerjaan dan bisa dijadikan sebagai jembatan untuk meniti karir selanjutnya yang lebih baik terutama bagi para fresh graduate.

Kenapa buruh/ tenaga kerja menuntut dihapuskannya sistem outsourcing?

Tentu di balik keuntungan yang diberikan outsourcing bagi kedua belah pihak, pasti ada kerugian yang dirasakan tidak sama besarnya antara kedua belah pihak. Dalam hal ini kerugian pada buruh/ tenaga kerja dinilai lebih besar dari pada kerugian perusahaan akibat adanya sistem outsource ini.

Kerugian buruh antara lain:

  • Sistem ini berimplikasi langsung kepada timbulnya karyawan kontrak bahkan dalam waktu yang sangat singkat.
  • Terampasnya hak-hak buruh akibat hubungan perusahaan-buruh bukan hubungan langsung. Melainkan adanya pihak ketiga (perusahaan penyedia/ vendor).
  • Hilangnya hak jaminan social dan tunjangan lainnya laiknya pegawai tetap pada sebuah perusahaan padahal beban dan tanggung jawab kerja sama.
  • Posisi tawar pekerja atau buruh semakin lemah karena tidak ada kepastian kerja, kepastian upah, jaminan sosial, jaminan kesehatan, pesangon jika di PHK, dan tunjangan-tunjangan kesejahteraan lain.
  • Buruh outsourcing juga kehilangan kesempatan berserikat sebagai implikasi dari tidak memilikinya posisi tawar dengan perusahaan tempat dia bekerja. Karena kontrak mereka adalah dengan perusahaan penyedia bukan dengan tempat dia bekerja.

Itulah sedikit ulasan tentang keuntungan dan kerugian dari sistem outsourcing yang selama ini menjadi perdebatan dan menjadi dilema tersendiri bagi pemerintah untuk melakukan kebijakan seputar ketenaga kerjaan.

Semoga bermanfaat.

Share
Advertisement
tags: ,

Related For Kerugian dan Keuntungan Sistem Outsourching

Comment For Kerugian dan Keuntungan Sistem Outsourching